Nabi Syu’aib dan Nabi Dzulkifli as


Nabi Syu’aib(Pembasmi Orang-Orang yang Curang)

Syu’aib berasal dari suku Madyan. Suku Madyan adalah orang-orang Arab yang tinggal di sebuah daerah bernama Ma’an. Letaknya di pinggiran negeri Syam.
Kaum madyan ini tidak mengenal Allah. mereka adalah para penyembah berhala. Kehidupan mereka sudah jauh menyeleweng dari ajaran Allah.
Allah mengangkat Syu’aib sebagai nabi. la diutus kepada kaumnya sendiri, suku madyan. Jadi, Syu’aib bukanlah orang asing bagi suku madyan.
Ada kebiasaan buruk yang suka dilakukan penduduk madyan. Selain syirik, mereka juga suka berbuat curang. Takaran dibuat tekor. Timbangan tidak pernah pas.ltu kalau mereka menakar untuk orang lain.
Namun, mereka sendiri tak mau dirugikan. mereka selalu menuntut timbangan yang benar. Takaran harus selalu pas. Dengan ungkapan lain, mereka suka berbuat curang, tapi tidak mau dicurangi.
Dakwah mulai dilakukan Syu’aib. Tugas pertama ialah meluruskan akidah. Penduduk madyan semestinya beribadah hanya kepada Allah. Tidak seharusnya Allah dipersekutukan dengan yang lain.

Membasmi Kecurangan
Setelah mendakwahkan tauhid, Syu’aib kemudian menyerukan akhlak yang baik.la mengajak orang-orang madyan untuk berbuat adil. Jujur dalam berjualbeli. Takaran dan timbangan disempur-nakan. Pokoknya, tidak merugikan orang lain.
Kecurangan dan saling tipu adalah perbuatan tercela. mengurangi takaran dan timbangan tak bisa dibenarkan. Sebab ada. Pihak yang dirugikan. dan biasanya yang menjadi korban ialah rakyat kecil.
Para pendagang kaya. semakin kaya.
Sementara itu, yang hidupnya pas-pasan semakin menderita. Akibatnya, kekayaan tidak merata. Jurang kaya dan miskin semakin menganga.
Tak lupa Syu’aib menyinggung berbagai kenikmatan. la mengingatkan penduduk madyan untuk senantiasa bersyukur. Banyak kesejahteraan yang mereka rasakan. Dulu, jumlah mereka tak seberapa. Sekarang jumlah penduduk madyan sangat banyak. Rezeki mereka juga berlimpah. Semua ini merupakan karunia Allah.
Singkat kata, kehidupan mereka serba berkecukupan. Tak semestinya, mereka merugikan orang lain. Berbahagia di atas penderitaan orang lain adalah kezaliman.
Diingatkannya bahwa kezaliman akan mengundang azab Allah. Tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat Dan azab akhirat jauh lebih pedih ketimbang azab dunia. Tinggalkan segala bentuk kecurangan.
Atau Allah akan menimpakan hukuman.
Syu ‘aib terus berdakwah.la berusaha meyakinkan orang-orang madyan. Sesekali dituturkan kisah umat-umat terdahulu. Bagaimana azab ditimpakan kepada kaum Nuhl kaum Hud, dan kaum Luth. Semua dibinasakan gara-gara membangkang. Kafir, pongahl dan durhaka terhadap seruan para nabi.
Ditegaskan pula bahwa meraka akan mengalami nasib yang sama bila tetap mendurhaka. Oleh karena itul sudah saatnya mereka mengikuti seruan dan nasihatnya. Jangan sampai mereka ditimpa azab. Tak ada gunanya sesal di kemudian hari.

Berdialog dengan Penduduk Madyan
Kata-kata Syu’aib penuh dengan nasihat Hal mana mengundang orangorang madyan untuk merenungkannya. Sesekali ditegaskan bahwa ia masih kerabat mereka. Ada hubungan darah antara ia dan orang-orang madyan. Sebab ia sendiri berasal da ri suku madyan. Jadil tak mungkin ia menjerumuskan kerabat Sendiri.
Syu’aib menegaskan tujuan dakwahnya.la hanya menginginkan keselamatan kaum kerabatnya. Tak hanya di dunia, tapi juga keselamatan di akhirat Dakwah yang dilakukannya sangat tulus. Buktinya, ia tidak meminta upah sedikit pun. la juga tidak menginginkan kedudukan atau jabatan. Hanya pahala Allah yang diharapkannya.
Dakwah adalah mengajak orangorang kepada kebenaran. Bagi Syu’aibl yang penting penduduk madyan mau beriman. ltu saja sudah cukup. la akan
merasa bahagia bila mereka kembali ke jalan Allah. meninggalkan penyembahan berhala. Dan tidak kalah pentingnya, berlaku jujur dalam memberi takaran dan timbangan.
Air susu dibalas dengan air tuba. Kata-kata yang halus dibalas dengan umpatan dan cemoohan. Petuah dan nasihat hanya membuahkan hinaan.
Sangat menyakitkan memang. Tapi, semua itu dihadapi Syu’aib dengan lapang dada. la tidak marah. Ejekan tak dibalas ejekan. Kekasaran dihadapinya dengan kesabaran. Sama sekali ia tidak mengumbar kata-kata kotor.
Syu’aib senantiasa menunjukkan sikap lemah lembut. Dakwah ha rus menggugah hati dan akal. Sikap kasar hanya akan melahirkan kebencian. Dan ini jelas menghalangi keberhasilan dakwah “u Sendiri.
“Hai, Syu’aib, kami memang punya banyak tuhan.” Suatu ketika penduduk madyan berujar. “Apa salahnya?
Tuhan-tuhan “ itu warisan para leluhur. Kami bisa hidup sejahtera berkat tuhan-tuhan itu.”
“Berhala-berhala itu tak bisa apa-apa, kata sambil tersenyum. Jangankan memberi, mengurus diri sendiri saja tidak becus. Harta kalian adalah karunia
Allah. Bukan pemberian patung-patung “itu.”
“Hai, Syu’aib, harta kami adalah milik kami. Hasil jerih payah kami. Kami berhak menggunakannya sesuka hati. Jangan berlagak suci. Kami ini lebih pintar ketimbang kamu.”
“Sadarlah, saudara – saudaraku. Allahlah Pemilik segala yang ada. Termasuk juga harta kalian. Dialah Tuhan kalian, Pencipta segala yang ada. Bertobatlah kepada-Nya. Kembalilah ke jalan yang benar.”
“Jangan berlagak, kamu! Kamu ini hanya orang lemah. Kamu juga bukan orang terpandang. Kami hanya menghormati keluargamu. Jika tidak, tentu kami sudah merajam kamu.”
“Apakah keluargaku lebih kalian hormati ketimbang Allah? Jangan begitu. masa Allah dikesampingkan. Padahal, Dia maha menguasai kalian.”
“Kami tidak paham. Kata-katamu membuat kami bingung. Omonganmu ngawur. Dari tadi kamu nyerocos.”
“ Aku hanya berdakwah. Aku hanya menyampaikan risalah.” “Kata-katamu tidak membuat kami terpengaruh. Kami tetap teguh dengan keyakinan kami. Kamu ini hanya orang rendahan. mana mungkin kami mengi kutimu.”
“Bertakwalah kepada Allahf Kutegaskan sekali lagi, aku ini seorang rasul. Aku melarang kalian berlaku curang. Dan aku adalah orang pertama yang tidak berbuat curang.”
“Suka-suka saja. mau curang, kek. mau nipu, kek. Kamu nggak usah ikut campur. “
“ Aku tak hanya ngomong. Perbuatanku menjadi bukti. Cukuplah rezeki yang halal. Tidak perlu ada Pihak
yang dirugikan. Sekali lagi, sempurnakan taka ran dan timbangan.”
Nasihat tinggal nasihat. Tak satu pun yang melekat. Hati penduduk madyan seakan telah tertutup karat. Tak mau menerima nasihat. Kata-kata Syu’aib membuat mereka terpikat.
Hanya segelitir orang yang beriman.

Padahal, dakwah begitu gencar. Sebagian besar tetap membangkang. Cahaya tauhid tak bisa masuk. Hati mereka tertelungkup. Tak ada lubang masuk. mereka bersikukuh dengan agama leluhur.
Celakanya, orang-orang madyan, bahkan menantang. mereka meminta didatangkan azab. Segera. Tantangan dikemukakan lantaran mereka sudah kehabisan kata-kata. Keterangan-keterangan Syu’ aib tak terbantahkan.
“Kamu ini pembohong besar. Hai, Syu’aib, ayo buktikan. Timpakan Saja langit kepada kami. Biar kami mati tertimpa reruntuhannya. Pasti kamu tidak sanggup, bukan!
“masya Allah! Kalian malah menantang azab.”
“Sudahlah jangan banyak cakap. Kamu boleh pilih, diusir atau diam.” “Hidayah itu hanya dari Allah,” tegas Syu’aib.” Tugasku hanya menyampaikan sejelas mungkin. Dan itu sudah kulakukan. Selanjutnya, terserah kepada Allah.”
Pupus sudah harapan Syutaib. Nasihat apa pun tidak akan diterima. Telinga orang-orang madyan sepertinya sudah tersumbat. mereka tak mau lagi mendengarkan kata-kata Syu’aib.
Di Pihak lain, orang-orang madyan merasa kesal. Dakwah Syu’aib membuat mereka mengkal. Di mana pun mereka berkumpul, selalu saja ada Syu’aib berdakwah.
Berbagai cara telah mereka lakukan. mereka ingin mengusir Syu’aib. Dari penghinaan sampai tindak kekerasan, Semua sudah dicoba. Akan tetapi, Syutaib tak jua jera. Saking kesalnya, sam:pai- sampai mereka menantang supaya azab disegerakan saja.

Azab Tak dapat Dicegah
Penduduk madyan benar-benar ingkar. Cahaya agama tak dihiraukan. Kebenaran telah ditolak mentah-mentah. Bahkan, mereka menantang azab dengan pongah. Tantangan ini menegaskan kekafiran mereka. Hati mereka telah tertutup rapat. barat gelas terbalik. Sebanyak apa pun air yang disiramkan, tak setetes pun bisa masuk.
Penduduk madyan memilih hidup dalam kubangan syirik. mereka betah dengan kecurangan. mengurangi takaran dan timbangan menjadi kesenangan. Hidup bergelimang dalam kemaksiatan. Bagi merekam semua itu teras a sangat nyaman.
“Hai, orang-orang madyan, seru Syu’aib, silakan berbuat semau kahan. Aku juga berbuat menurut kemauanku. Kelak kalian akan mengetahui siapa yang hina dan siapa yang mulia. T unggulah, aku juga menunggu bersama kalian.”
Kemudian, Syu ‘aib mengangkat tangan.la memohon agar Allah membinasakan penduduk madyan. Segeralah azab ditimpakan. Agar kelak mereka menjadi pelajaran. Bagi orang-orang yang datang kemudian.
Beberapa hari kemudian, angin panas dikirimkan. Embusan udara begitu menyengat membuat kerongkongan seakan tersumbat. Dahaga demikian hebat. Saking hebatnya, panas membuat mereka sesak napas. mereka hampir tercekik karenanya.
Keadaan itu membuat orang-orang panik. mereka ribut Lari ke sana kemar. mencari perlindungan. Tak pelak lagi, ada yang bertubrukan. Ada yang terinjak-injak. Jeritan, tangisan, raungan berbaur tak keruan.
Dalam keadaan demikian, tiba -tiba terlihat awan tebal. makin lama, makin menggumpal. Awan ini menaungi mereka. Satu sama lain saling panggil. Setiap orang mengajak bernaung.
Suasana begitu mencekam. Orangorang saling sikut mereka berebut. lngin bernaung di bawah awan. Tak peduli harus berdesak-desakkan. Yang penting mereka bisa berteduh dari panas yang begitu hebat
Namun, setelah mereka berkumpul, apa yang terjadi? Tiba-tiba, awan hitam itu memercikkan api. Disusul dengan suara petir yang menggelegar. Blaaar .. .!Bumi berguncang hebat. Orang-orang kelimpungan. mereka berjatuhan. mati bergelimpangan.
Walhasil, orang-orang madyan itu mati. Keadaan tubuh mereka sangat mengenaskan. mereka mati dalam keadaan terhina.
Syu’aib merasa sedih. Bagaimanapun penduduk madyan masih merupakan kerabatnya. Tapi, apalah daya.la hanya seorang rasul. Tugasnya hanya menyampaikan.
“Lama aku berdakwah. Telah k.sampaikan semua risalah. Bermacam nasihat telah kuungkap. Tiada jemu mereka kuajak. Azab juga telah kuingatkan. lngkar berarti azab. Taat berarti selamat Kenyataannya mereka tetap menolak.
Telinga mereka seolah pekak. Hati mereka seakan berkarat mereka tak hirau akan nasihat Sungguh malang.”

—oOo—

Nabi Dzulkifli

(Teguh Memegang Janji)

Dzulkifli adalah putra Nabi Ayyub. Aslinya bernama Basyar Dzulkifli sendiri berarti orang yang memiliki keteguhan dalam menjalani tugas. Dzulkifli tinggal di negeri Syam.
Sehari-hari, Dzulkifli tak lepas dari ibadah. la tak pernah lalai shalat Setiap hari, ia menunaikan shalat tak kurang dari seratus rakaat
Sepeninggal Nabi Ayyub, Dzulkifli diangkat menjadi nabi dan rasul. Dzulkifli diutus ke kabilah Rum. Disebut Rum, karena leluhur mereka bernama Rum bin Aish bin Ishaq bin Ibrahim.
Tugas dakwah Dzulkifli ialah meluruskan akidah. Dzulkifli menyeru kabilah Rum untuk beribadah kepada Allah. Hanya Allah yang berhak disembah. Dialah Pencipta alam semesta. Langit, bumi, dan seluruh isinya adalah ciptaan-Nya. Seluruh ciptaan Allah tak layak disembah. Juga tak pantas diper-sandingkan dengan-Nya.
Per juangan Dzulkifli tidak sia- sia. Dakwahnya membuahkan hasil. Banyak kabilah Rum yang menyambut seruannya. Mereka beriman dan mengikuti ajaran-ajarannya.

Tiga Syarat
Kala itu, negeri Syam dipimpin oleh seorang raja. Sang raja sudah uzur. Usianya sudah lanjut Raja merasa tidak mampu lagi mengurus rakyat Tubuhnya sudah lemah. Matanya kurang awas. Pendengarannya kurang jelas.
Raja merasa ajalnya sudah dekat ak lama lagi, ia akan pergi. Bukan sehari dua hari, melainkan untuk selamanya. Namun, ada satu hal yang selalu menjadi pikirannya. Masa depan kerajaan. Tak mungkin ia meninggalkan kerajaan begitu saja. Bagaimana kalau nanti jatuh ke tangan orang yang zalim. Kasihan rakyat Mereka pasti hidup tertindas.
mahkota tak boleh jatuh ke tangan orang jahat Kekuasaan ha rus diserahkan kepada orang yang tepat Raja berpikir beberapa saat Akhirnya, raja menemukan cara yang tepat
Cara itu akan segera diumumkan.
Rencananya raja akan membuat maklumat resmi. maka, suatu hari rakyat dikumpulkan. Orang-orang pun berdatangan. mereka merasa penasaran. Ada apa gerangan?
Lapangan sudah penuh. Orang-orang• sudah berjubel di sana. Dengan sabar, mereka menunggu kedatangan sang raja. Sejurus kemudian, raja datang. Segera saja raja menyampaikan maklumatnya.
“Rakyatku, dengarkan baik-baik. Aku akan menyampaikan sebuah maklumat Aku akan turun takhta. Aku akan mengundurkan diri sebagai raja!”
Suasana menjadi gaduh. Rakyat ribut maklumat raja membuat heboh. Ada yang merasa khawatir. Ada yang merasa cemas. Bermacam-macam pikiran mereka. Beberapa orang coba menebak-nebak.
“Wah, raja akan mundur,”celetuk seseorang.
“ Siapa penggantinya, ya,” sahut yang lain.
“mudah-mudahan saja tidak jatuh ke tangan orang yang kejam..”
“Iya, jangan sampai. Bisa repot kita.
Pasti menderita.”
“Jangan khawatir.” terdengar lagi raja berkata, Aku akan mundur setelah ada pengganti. Penggantiku harus orang yang mumpuni.
“Siapa pengganti Paduka? Paduka, kan, tidak punya anak.” tanya beberapa orang.
“ Benar, aku tidak punya anak. Oleh karena itu, penggantiku pasti bukan berasal dari keluarga raja.”
“Lalu, siapa, Paduka? Orang-orang semaki penasaran.”
”Aku tidak akan menunjuk orang.
Aku hanya akan mengajukan tiga syarat Siapa pun berhak menjadi raja. Asalkan ketiga syarat itu bisa dipenuhinya.”
“Apa tiga syarat itu, Padukar”
“Pertama, sanggup berpuasa pada siang hari. Kedua, sanggup beribadah pada malam hari. Dan ketiga, sanggup tidak marah.”
Hadirin terdiam. Tak seorang pun angkat tangan. Ketiga syarat itu dirasa terlalu be rat.
“Wah, nggak gampang jadi raja, ya,” kata seseorang.
“Iya, syaratnya berat-berat,” timpal yang lain.
“Rasanya nggak akan ada yang sanggup, tuh.”
Sua.ana kembali gaduh. Orang-orang saling betanya. mereka menerka-nerka. Siapa gerangan yang sanggup memenuhi ketiga syarat itu?
Namun, tiba-tiba keadaan menjadi hening. Tanpa diduga .eorang pemuda tampil. Si pemuda berdiri seraya mengangkat tangan.
“ saya, siap, Paduka,” katanya tegas dan lantang.
Raja hanya melirik sebelah mata. Raja tak menghiraukan kata-kata si pemuda. Dikiranya si pemuda hanya iseng. mana mungkin anak muda seperti dia sanggup.
Kemudian, raja mengulangi kata-katanya. Kembali raja mengajukan pertanyaan yang sama. Siapa yang sanggup memenuhi ketiga syarat itu?
Pemuda tadi berdiri lagi. la mengangkat tangan seraya menyatakan kesanggupannya.
Kali ini, perhatian raja tertuju kepada si pemuda. Keningnya berkerut penuh selidik. Namun, kemudian raja memanggil si pemuda. Sebab tak ada lagi yang siap. Hanya.si pemuda yang menyatakan kesanggupannya.
“Siapa nama Anda, hai anak muda?” tanya raja.
“Saya Basyar putra Ayyub.” “Benar Anda sanggup?” “Insyallah Allah, Paduka.”
Akhirnya, Basyar dinobatkan sebagai raja. Secara resmi, Basyar dilantik menjadi raja yang sah. Dan sekarang negeri Syam mempunyai pemimpin baru, Raja Basyar.
Hari-hari terus bergulir. Siang berganti malam. malam berganti siang. Setiap saat rakyat menant. mereka ingin tahu. Benarkah raja baru ini akan menepati janjinya? Jangan- jangan hanya akal-akalan?
Ternyata, Basyar tidak berbohong.
Hal itu terbukti dalam keseharian. Siang hari ia saum. malamnya ia khusyuk beribadah. Dan ia juga tak pernah marahmarah. Segala masalah selalu dihadapi dengan tenang. Sesulit apa pun masalah yang dihadapi, emosinya tak pernah tersulut
Rakyat semakin percaya. Dukungan kepada Basyar semakit kuat Ternyata, usaha raja lama tidak percuma. Kini, mereka punya raja yang lebih baik. Seorang raja yang selalu menepati janji.
maka, selanjutnya Basyar mendapat sebutan Dzulkifli. Dzulkifli berarti orang yang memiliki tanggungan. Segala tugas dan janji ditunaikan.

Indahnya Kesabaran
Dzulkifli benar-benar seorang penyabar. Persis seperti sang ayah, Nabi Ayyub. Dzulkifli tak pernah marah. Apapun senantiasa dihadapi dengan lapang dada. Persoalan dihadapi dengan Senyuman, bukan dengan kemarahan. Hatinya selalu tentang. Sikapnya selalu kalem. Kata-katanya senantiasa arif dan bijaksana.
Singkat kata, tak ada seorang pun yang bisa membuat Dzulkifli marah. Bahkan, tak jarang ada orang yang ingin mengUjinya. ffiereka memancing-mancing supaya ia marah. Entah dengan kata-kata, sikap, maupun perbuatan. T ak seorang pun berhasil. Dzulkifli tak jua marah.
Sangat pantas kalau Allah sendiri memuji Dzulkifli. Al-Quran menyebut Dzulkifli sebagai orang saleh yang penyabar.
Dzulkifli berhasil memenuhi janji. Ketiga syarat itu bisa ditunaikannya dengan baik. Saum pada siang hari, ibadah di mal am hari, dan tidak marah. Ketiga hal ini pada dasarnya bermuara pada kesabaran.
Dengan kata lain, hanya orang sabar yang sanggup saum Secara berkesinambungan. Hanya orang sabar yang sanggup beribadah setiap malam. Hanya orang sabar yang sanggup mengendalikan amarah.
Tidak mudah menjalankan semua itu.
Pertama-tama, Dzulkifli harus menjaga waktu. Waktu begitu berharga. Dzulkifli memanfaatkannya sedemikian rupa.
Tugas-tugas bisa dijalankan tepat waktu. Tak pernah ada persoalan yang tertunda. Apalagi, sengaja ditunda-tunda.

Digoda
Rakyat senang. Namun, keadaan itu justru membuat iblis geram. lblis memang telah bersumpah untuk menyesatkan keturunan Adam. Termasuk dalam hal ini terhadap Dzulkifli.
Kejadiannya pada siang hari. Kala itu, Dzulikifli hendak beristirahat Dzulkifli biasa tidur siang barang sesaat Tujuannya supaya pada malam harinya ia bisa terjaga malam hari, ia harus beribadah.
lblis menjelma. Dalam rupa manusia itulah, iblis mendatangi Dzulkifli. Kepada Dzulkifli, ia mengadukan suatu persoalan. Dikatakan bahwa’ ia dizalimi oleh seseorang. Hartanya telah dirampas.la ingin meminta keadilan. Oleh karena itu,ia memohon kiranya Dzulkifli bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan adil.
Dzulkifli meminta waktu. la perlu istirahat terlebih dulu. Namun, orang itu memaksa. Persoalannya harus segera dituntaskan. Hari itu juga. Tadinya, Dzulkifli hendak menugaskan salah seorang pembantunya. Sebab saat tidur siang telah tiba. Tapi, orang tetap menolak. Ia bersikeras agar raja sendiri yang turun tangan.
Terang saja ibliS menolak. Sebab memang ia hendak mengganggu tidur siang Dzulkifli. Maksudnya, supaya Dzulkifli tidak bisa beribadah malam harinya.
Dzulkifli bersedia. la tak menolak permintaan manusia jadi- jadian itu. Meskipun sikapnya sangat keterlaluan, Dzulkifli tetap tersenyum. Sedikit pun ia tidak marah.
Suatu ketika, terjadi pemberontakan.
Orang-orang durhaka yang melakukan. Mereka tidak senang dengan keberhasilan Dzulkifli. Mereka merasa disingkirkan. Banyak aturan yang membuat
gerak mereka tidak leluasa.
Kemudian, mereka menghimpun kekuatan. Mereka bermaksud memerangi Dzulkifli. Mula-mula, mereka menyebar teror Rakyat ditakut-takuti. Kejahatan sengaja
Dibuat. Tujuannya supaya rakyat tidak tenang. dan selanjutnya, rakyat tidak akan percaya lagi kepada Dzulkifli.
Melihat kekacauan semakin meluas, Dzulkifli mengumpil rakyatnya. Dzulkifli menyemangatinya mereka untuk berjuang.Dzulkifli mengajak merekan untuk memerangi para pemerontok itu. demi ketenangan hidup mereka sendiri. Selian tentunya demi menegakan agaman allah.
Seruan Dzulkifli tak dihiraukan.rakyat tidak menyambut dengan baik. Rakyat enggan berperang. Takut mati.Baginda, kami nggak mau berperang. Kami takut. Kami masih beteah hidup di dunia. Kecuali kalo baginda mau berdoa .
Mohonlah supaya Allah menjamin hidup kami. Jika ada jaminan tidak mati, barullah kami mau berperang.
Benar-benar keterlaluan. seharusnya mereka siap. bagaimanapun Dzulkifli adalah raja mereka menolak titah raja berarti membangkang. Orang yang membangkan patut mendapat hukuman.
Untunglah saja, yang mereka hadapi Dzulkifli mendapat jawaban seperti itu, Dzulkifli hanya tersenyum. Secuil pun tak menunjukan kemarahan. Kalau raja yang lain, pasti marah besar. Mana ada raja mau yang disepelekan oleh rakyatnya.
Aneh, memang. Rakyat begitu berani. Mentang-mentang raja meraka tak pernah marah. Mereka bersikap seenaknya. Padahal,
Ajakan berperang itu pun demi keselamtan mereka juga.
Dzulkifli tidak marah. Malah kemudian, ia berdoa kepada allah. Permintaan rakyatnya ia sampaikan.
“Ya Allah, hamba telah berusaha. Titah engkau sauda saya sampaikan.mereka sudah maba perintahkan untuk berperang. Namun,apa jawaban mereka?Engkua sendiri maha tahu.Eh, mereka malah mengajukan syarat yang macam-macam.”
“Hai, Dzulkifli,” kata Allah, “ Aku tahu permintaan mereka. Doamu juga Kudengar. Oleh karena itu, permintaan mereka Kukabulkan.”
Demikianlah, Dzulkifli. Kesabarannya patut menjadi teladan. Sabar dalam menjalankan ketaatan. Juga sabar dalam menghadapi persoalan. Segala tugas dan kewajiban ditunaikan dengan baik. Tak pernah mengeluh dan tak pernah menggerutu. Apalagi, sampai marah marah. Baginya, kemarahan tidak me- nyelesaikan masalah.

%d blogger menyukai ini: