Hijrah Ekonomi

Jakarta – Momentum tahun baru Hijriah 1430 harus kita jadikan titik tolak perubahan akhlaq dan paradigma terhadap Islam. Bahwa Islam bukan hanya di dalam masjid dan surau-surau saja. Atau hanya pada pengajian-pengajian dan tahlilan ketika seseorang meninggal dunia.

Islam adalah sistem yang menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlaq dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan sumber daya alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar. Tidak kurang dan tidak lebih.

Hijrah sendiri berasal dari kata hajara yang berarti meninggalkan. Secara istilah kata hijrah digunakan untuk aktivitas meninggalkan perbuatan seseorang atau sekelompok orang. Atau pun meninggalkan negeri karena kepada Allah SWT.

Dalam kondisi ekonomi global dan umat Islam saat ini Muslim di seluruh dunia harus segera melakukan hijrah dalam beberapa hal. Untuk melepaskan diri dari pengaruh kelompok-kelompok yang memusuhi Islam.

Hijrah yang pertama adalah pergi meninggalkan segala kemaksiatan dalam ekonomi seperti riba, judi, dan gharar. Adakah seseorang yang bahagia disebabkan harta hasil riba dan judi yang dikumpulkan dan kemudian dimakannya bersama keluarganya? Adakah seseorang yang merasa tenang akibat perbuatan curang dan menipu yang dilakukannya Jawabannya sudah tentu tidak ada.

Tetapi, mengapa banyak umat Muslim yang masih melakukannya? Hal ini disebabkan oleh paradigma mereka yang sudah menyerupai Kapitalisme Barat di mana semua hal diukur dengan materi dunia sehingga segala cara akan dilakukan demi mencapai kepuasan duniawinya.

Jika sudah seperti ini keadaannya akankah Allah SWT mendengar doa dan permohonan kita? Padahal Nabi SAW menuturkan cerita seorang laki laki yang datang dari tempat yang jauh, berambut kusut, dan badanya penuh debu, menadahkan tangannya seraya berdoa: “Ya Rabbi, Ya Rabbi, sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?”

Hijrah yang kedua adalah pergi meninggalkan kelompok manusia yang gemar mengolok-olok Al Quran dan Islam. Apakah kelompok ini hanya berasal dari kelompok non-Muslim saja? Tidak.

Banyak dari umat Muslim yang juga senang mengolok-olok Al Quran dengan meninggalkan membacanya dan melakukan hal-hal yang berkebalikan dengan firman-firman Allah dalam Al Quran. Misalnya dengan menghalalkan riba (QS.2:275) dan menipu atau bersekongkol untuk menipu (QS.2:282).

Kita harus pergi dan meningggalkan kelompok manusia yang seperti ini. Karena jika tidak maka kita akan termasuk dalam kelompok mereka dan Allah akan membalasnya dengan neraka jahanam (QS.4:140). Wallahu Musta’an.

Muhamad Abduh
International Islamic University Malaysia
Kuala Lumpur
abduh.iium@gmail.com
+60163503502

Penulis adalah Mahasiswa asal Indonesia di Pascasarjana Ekonomi IIU Malaysia Ketua Islamic Economic Forum for Indonesia Development (ISEFID).

%d blogger menyukai ini: