Arab Pra Islam bag.1

BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM                           
Muhammad Husain Haekal

   Sumber peradaban pertama - Agama Yahudi dan Kristen
   - Sekta-sekta Kristen dan Pertentangannya - Majusi
   Persia di jazirah Arab - Jalan-jalan kafilah - Yaman
   dan peradabannya - Sebabnya Jazirah bertahan pada
   paganisma.
 
PENYELIDIKAN mengenai sejarah peradaban manusia dan dari  mana
pula  asal-usulnya,  sebenarnya  masih  ada hubungannya dengan
zaman kita sekarang  ini.  Penyelidikan  demikian  sudah  lama
menetapkan,  bahwa  sumber peradaban itu sejak lebih dari enam
ribu  tahun  yang  lalu  adalah  Mesir.  Zaman   sebelum   itu
dimasukkan orang kedalam kategori pra-sejarah. Oleh karena itu
sukar sekali akan sampai kepada suatu  penemuan  yang  ilmiah.
Sarjana-sarjana   ahli   purbakala   (arkelogi)  kini  kembali
mengadakan penggalian-penggalian  di  Irak  dan  Suria  dengan
maksud  mempelajari  soal-soal  peradaban  Asiria  dan Funisia
serta  menentukan  zaman  permulaan   daripada   kedua   macam
peradaban  itu:  adakah  ia  mendahului  peradaban  Mesir masa
Firaun dan sekaligus mempengaruhinya, ataukah ia menyusul masa
itu dan terpengaruh karenanya?

Apapun  juga  yang  telah  diperoleh  sarjana-sarjana arkelogi
dalam bidang  sejarah  itu,  samasekali  tidak  akan  mengubah
sesuatu  dari kenyataan yang sebenarnya, yang dalam penggalian
benda-benda kuno Tiongkok dan Timur Jauh belum  memperlihatkan
hasil  yang  berlawanan.  Kenyataan  ini  ialah  bahwa  sumber
peradaban pertama - baik di Mesir, Funisia atau Asiria  -  ada
hubungannya  dengan  Laut Tengah; dan bahwa Mesir adalah pusat
yang paling menonjol membawa peradaban pertama itu  ke  Yunani
atau  Rumawi,  dan  bahwa peradaban dunia sekarang, masa hidup
kita  sekarang  ini,  masih  erat  sekali  hubungannya  dengan
peradaban pertama itu.

Apa   yang   pernah   diperlihatkan   oleh  Timur  Jauh  dalam
penyelidikam tentang sejarah peradaban, tidak  pernah  memberi
pengaruh  yang jelas terhadap pengembangan peradaban-peradaban
Fira'un, Asiria atau Yunani, juga tidak pernah mengubah tujuan
dan  perkembangan  peradaban-peradaban  tersebut. Hal ini baru
terjadi sesudah  ada  akulturasi  dan  saling-hubungan  dengan
peradaban      Islam.     Di     sinilah     proses     saling
pengaruh-mempengaruhi itu terjadi, proses asimilasi yang sudah
sedemikian  rupa, sehingga pengaruhnya terdapat pada peradaban
dunia yang menjadi pegangan umat manusia dewasa ini.
 
Peradaban-peradaban itu sudah begitu berkembang  dan  tersebar
ke  pantai-pantai Laut Tengah atau di sekitarnya, di Mesir, di
Asiria dan Yunani sejak ribuan tahun yang  lalu,  yang  sampai
saat  ini  perkembangannya  tetap dikagumi dunia: perkembangan
dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam bidang  pertanian,
perdagangan,  peperangan  dan  dalam  segala  bidang  kegiatan
manusia.   Tetapi,   semua   peradaban   itu,    sumber    dan
pertumbuhannya,  selalu berasal dari agama. Memang benar bahwa
sumber itu  berbeda-beda  antara  kepercayaan  trinitas  Mesir
Purba  yang  tergambar  dalam  Osiris,  Isis  dan  Horus, yang
memperlihatkan  kesatuan  dan  penjelmaan  hidup  kembali   di
negerinya serta hubungan kekalnya hidup dari bapa kepada anak,
dan  antara  paganisma  Yunani  dalam  melukiskan   kebenaran,
kebaikan   dan   keindahan  yang  bersumber  dan  tumbuh  dari
gejala-gejala alam berdasarkan pancaindera;  demikian  sesudah
itu   timbul   perbedaan-perbedaan  yang  dengan  penggambaran
semacam  itu  dalam  pelbagai  zaman  kemunduran   itu   telah
mengantarkannya ke dalam kehidupan duniawi. Akan tetapi sumber
semua peradaban itu tetap membentuk perjalanan sejarah  dunia,
yang  begitu  kuat  pengaruhnya sampai saat kita sekarang ini,
sekalipun peradaban demikian hendak  mencoba  melepaskan  diri
dan  melawan  sumbernya sendiri itu dari zaman ke zaman. Siapa
tahu, hal yang serupa kelak akan hidup kembali.

Dalam   lingkungan   masyarakat   ini,    yang    menyandarkan
peradabannya  sejak  ribuan  tahun  kepada sumber agama, dalam
lingkungan  itulah  dilahirkan   para   rasul   yang   membawa
agama-agama   yang  kita  kenal  sampai  saat  ini.  Di  Mesir
dilahirkan Musa, dan dalam pangkuan Firaun ia  dibesarkan  dan
diasuh,  dan  di  tangan  para pendeta dan pemuka-pemuka agama
kerajaan itu ia mengetahui keesaan Tuhan  dan  rahasia-rahasia
alam.
 
Setelah  datang ijin Tuhan kepadanya supaya ia membimbing umat
di tengah-tengah Firaun yang berkata kepada rakyatnya: "Akulah
tuhanmu yang tertinggi" iapun berhadapan dengan Firaun sendiri
dan tukang-tukang  sihirnya,  sehingga  akhirnya  terpaksa  ia
bersama-sama orang-orang Israil yang lain pindah ke Palestina.
Dan di Palestina ini pula dilahirkan Isa, Ruh dan Firman Allah
yang  ditiupkan  ke  dalam  diri Mariam. Setelah Tuhan menarik
kembali Isa putera Mariam, murid-muridnya kemudian menyebarkan
agama   Nasrani   yang   dianjurkan   Isa   itu.   Mereka  dan
pengikut-pengikut     mereka     mengalami      bermacam-macam
penganiayaan. Kemudian setelah dengan kehendak Tuhan agama ini
tersebar,  datanglah  Maharaja  Rumawi  yang  menguasai  dunia
ketika  itu,  membawa  panji  agama  Nasrani. Seluruh Kerajaan
Rumawi kini telah menganut agama Isa. Tersebarlah agama ini di
Mesir,  di  Syam (Suria-Libanon dan Palestina) dan Yunani, dan
dari Mesir menyebar  pula  ke  Ethiopia.  Sesudah  itu  selama
beberapa  abad  kekuasaan  agama  ini semakin kuat juga. Semua
yang berada di bawah panji  Kerajaan  Rumawi  dan  yang  ingin
mengadakan persahabatan dan hubungan baik dengan Kerajaan ini,
berada di bawah panji agama Masehi itu.

Berhadapan dengan agama Masehi yang tersebar  di  bawah  panji
dan pengaruh Rumawi itu berdiri pula kekuasaan agama Majusi di
Persia yang mendapat dukungan  moril  di  Timur  Jauh  dan  di
India.   Selama  beberapa  abad  itu  Asiria  dan  Mesir  yang
membentang  sepanjang  Funisia,  telah  merintangi  terjadinya
suatu  pertarungan  langsung  antara kepercayaan dan peradaban
Barat dengan Timur. Tetapi dengan masuknya Mesir  dan  Funisia
ke  dalam lingkungan Masehi telah pula menghilangkan rintangan
itu. Paham Masehi di Barat dan Majusi di Timur sekarang  sudah
berhadap-hadapan  muka.  Selama  beberapa abad berturut-turut,
baik Barat maupun Timur, dengan  hendak  menghormati  agamanya
masing-masing, yang sedianya berhadapan dengan rintangan alam,
kini telah berhadapan dengan  rintangan  moril,  masing-masing
merasa  perlu  dengan  sekuat  tenaga  berusaha mempertahankan
kepercayaannya, dan satu sama lain tidak  saling  mempengaruhi
kepercayaan  atau  peradabannya,  sekalipun  peperangan antara
mereka itu berlangsung terus-menerus sampai sekian lama.
 
Akan tetapi, sekalipun Persia telah dapat  mengalahkan  Rumawi
dan  dapat  menguasai  Syam dan Mesir dan sudah sampai pula di
ambang pintu Bizantium,  namun  tak  terpikir  oleh  raja-raja
Persia  akan menyebarkan agama Majusi atau menggantikan tempat
agama Nasrani. Bahkan pihak yang  kini  berkuasa  itu  malahan
menghormati  kepercayaan  orang  yang dikuasainya. Rumah-rumah
ibadat mereka yang sudah hancur  akibat  perang  dibantu  pula
membangun  kembali  dan  dibiarkan  mereka  bebas  menjalankan
upacara-upacara  keagamaannya.  Satu-satunya  yang   diperbuat
pihak  Persia dalam hal ini hanyalah mengambil Salib Besar dan
dibawanya ke negerinya. Bilamana kelak kemenangan itu berganti
berada  di  pihak  Rumawi Salib itupun diambilnya kembali dari
tangan Persia. Dengan demikian peperangan rohani di Barat  itu
tetap  di  Barat  dan di Timur tetap di Timur. Dengan demikian
rintangan moril tadi sama pula dengan rintangan alam dan kedua
kekuatan itu dari segi rohani tidak saling berbenturan.

Keadaan serupa itu berlangsung terus sampai abad keenam. Dalam
pada itu pertentangan antara  Rumawi  dengan  Bizantium  makin
meruncing.  Pihak  Rumawi,  yang  benderanya berkibar di benua
Eropa sampai ke Gaul  dan  Kelt  di  Inggris  selama  beberapa
generasi dan selama zaman Julius Caesar yang dibanggakan dunia
dan tetap dibanggakan, kemegahannya itu berangsur-angsur telah
mulai  surut, sampai akhirnya Bizantium memisahkan diri dengan
kekuasaan sendiri pula, sebagai ahliwaris Kerajaan Rumawi yang
menguasai  dunia  itu. Puncak keruntuhan Kerajaan Rumawi ialah
tatkala pasukan Vandal yang buas itu  datang  menyerbunya  dan
mengambil  kekuasaan  pemerintahan di tangannya. Peristiwa ini
telah menimbulkan bekas yang  dalam  pada  agama  Masehi  yang
tumbuh  dalam  pangkuan  Kerajaan  Rumawi.  Mereka  yang sudah
beriman kepada Isa itu telah mengalami pengorbanan-pengorbanan
besar, berada dalam ketakutan di bawah kekuasaan Vandal itu.
 
Mazhab-mazhab agama Masehi ini mulai pecah-belah.Dari zaman ke
zaman  mazhab-mazhab   itu   telah   terbagi-bagi   ke   dalam
sekta-sekta  dan  golongan-golongan. Setiap golongan mempunyai
pandangan dan  dasar-dasar  agama  sendiri  yang  bertentangan
dengan   golongan  lainnya.  Pertentangan-pertentangan  antara
golongan-golongan satu sama lain  karena  perbedaan  pandangan
itu telah mengakibatkan adanya permusuhan pribadi yang terbawa
oleh karena moral dan jiwa yang sudah  lemah,  sehingga  cepat
sekali   ia  berada  dalam  ketakutan,  mudah  terlibat  dalam
fanatisma yang buta dan dalam kebekuan. Pada masa-masa itu, di
antara golongan-golongan Masehi itu ada yang mengingkari bahwa
Isa  mempunyai  jasad  disamping  bayangan  yang  tampak  pada
manusia;  ada  pula  yang mempertautkan secara rohaniah antara
jasad dan ruhnya sedemikian rupa  sehingga  memerlukan  khayal
dan  pikiran  yang  begitu rumit untuk dapat menggambarkannya;
dan  disamping  itu  ada  pula  yang  mau  menyembah   Mariam,
sementara  yang  lain  menolak pendapat bahwa ia tetap perawan
sesudah melahirkan Almasih.

Terjadinya pertentangan antara  sesama  pengikut-pengikut  Isa
itu  adalah  peristiwa yang biasa terjadi pada setiap umat dan
zaman, apabila ia sedang mengalami kemunduran:  soalnya  hanya
terbatas pada teori kata-kata dan bilangan saja, dan pada tiap
kata  dan  tiap   bilangan   itu   ditafsirkan   pula   dengan
bermacam-macam arti, ditambah dengan rahasia-rahasia, ditambah
dengan warna-warni khayal yang sukar diterima akal  dan  hanya
dapat  dikunyah  oleh perdebatan-perdebatan sophisma yang kaku
saja.

Salah seorang pendeta gereja berkata:  "Seluruh  penjuru  kota
itu  diliputi  oleh  perdebatan.  Orang dapat melihatnya dalam
pasar-pasar, di tempat-tempat penjual pakaian, penukaran uang,
pedagang  makanan.  Jika  ada  orang  bermaksud hendak menukar
sekeping emas, ia akan  terlibat  ke  dalam  suatu  perdebatan
tentang  apa  yang  diciptakan  dan apa yang bukan diciptakan.
Kalau  ada  orang  hendak  menawar  harga   roti   maka   akan
dijawabnya:  Bapa  lebih  besar  dari putera dan putera tunduk
kepada Bapa. Bila ada orang yang bertanya tentang kolam  mandi
adakah  airnya  hangat,  maka pelayannya akan segera menjawab:
"Putera telah diciptakan dari yang tak ada."

Tetapi kemunduran yang telah menimpa agama Masehi sehingga  ia
terpecah-belah  kedalam  golongan-golongan dan sekta-sekta itu
dari segi politik  tidak  begitu  besar  pengaruhnya  terhadap
Kerajaan   Rumawi.   Kerajaan   itu   tetap  kuat  dan  kukuh.
Golongan-golongan itupun tetap hidup dibawah naungannya dengan
tetap  adanya  semacam  pertentangan  tapi  tidak sampai orang
melibatkan diri kedalam polemik teologi atau  sampai  memasuki
pertemuan-pertemuan  semacam  itu  yang  pernah  diadakan guna
memecahkan  sesuatu  masalah.  Suatu  keputusan  yang   pernah
diambil  oleh  suatu  golongan  tidak sampai mengikat golongan
yang  lain.  Dan  Kerajaanpun  telah  pula  melindungi   semua
golongan  itu  dan  memberi kebebasan kepada mereka mengadakan
polemik, yang  sebenarnya  telah  menambah  kuatnya  kekuasaan
Kerajaan    dalam   bidang   administrasi   tanpa   mengurangi
penghormatannya  kepada   agama.   Setiap   golongan   jadinya
bergantung  kepada  belas  kasihan penguasa, bahkan ada dugaan
bahwa golongan itu menggantungkan diri kepada adanya pengakuan
pihak yang berkuasa itu.
 
Sikap  saling  menyesuaikan diri di bawah naungan Imperium itu
itulah pula yang menyebabkan  penyebaran  agama  Masehi  tetap
berjalan dan dapat diteruskan dari Mesir dibawah Rumawi sampai
ke  Ethiopia  yang  merdeka  tapi   masih   dalam   lingkungan
persahabatan  dengan  Rumawi.  Dengan  demikian  ia  mempunyai
kedudukan yang sama kuat di sepanjang Laut  Merah  seperti  di
sekitar  Laut  Tengah itu. Dari wilayah Syam ia menyeberang ke
Palestina. Penduduk Palestina dan penduduk Arab  Ghassan  yang
pindah ke sana telah pula menganut agama itu, sampai ke pantai
Furat, penduduk Hira, Lakhmid dan Mundhir yang berpindah  dari
pedalaman  sahara  yang  tandus  ke  daerah-daerah  subur juga
demikian,  yang  selanjutnya  mereka  tinggal  di  daerah  itu
beberapa  lama  untuk kemudian hidup di bawah kekuasaan Persia
Majusi.

Dalam pada itu kehidupan Majusi di Persia telah pula mengalami
kemunduran  seperti  agama Masehi dalam Imperium Rumawi. Kalau
dalam agama Majusi menyembah api  itu  merupakan  gejala  yang
paling  menonjol, maka yang berkenaan dengan dewa kebaikan dan
kejahatan  pengikut-pengikutnya  telah   berpecah-belah   juga
menjadi  golongan-golongan  dan  sekta-sekta pula. Tapi disini
bukan  tempatnya  menguraikan  semua  itu.  Sungguhpun  begitu
kekuasaan  politik  Persia  tetap kuat juga. Polemik keagamaan
tentang  lukisan  dewa  serta  adanya  pemikiran  bebas   yang
tergambar   dibalik  lukisan  itu,  tidaklah  mempengaruhinya.
Golongan-golongan agama yang berbeda-beda itu semua berlindung
di  bawah  raja Persia. Dan yang lebih memperkuat pertentangan
itu ialah karena memang sengaja digunakan sebagai  suatu  cara
supaya  satu  dengan  yang  lain saling berpukulan, atas dasar
kekuatiran, bila salah satunya menjadi kuat,  maka  Raja  atau
salah satu golongan itu akan memikul akibatnya. Besambung ...
%d blogger menyukai ini: