Rona Saudi: Debat Muhrim Fatwa Saudi

Jakarta (MCH). Dr. Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir Al-Ubaikan, ulama besar Arab Saudi mengeluarkan fatwa bahwa wanita yang meyakini keamanan dirinya dalam perjalanan boleh bepergian tanpa harus didampingi muhrimnya. Sebab, menurut Ubaikan, peran muhrim adalah pengaman yang di zaman moderen ini sudah teratasi dengan berbagai sistem pengaman terpadu.

Fatwa Ubaikan yang dikutip harian Al-Hayat itu segera memicu pro-kontra. Kalangan wanita menyambut baik fatwa itu dan minta segera diimplementasikan dalam aturan sehingga Komisi Amar Ma`ruf Nahi Munkar (polisi susila) tak semena-mena menangkap mereka ketika mereka melakukan perjalan sendiri atau dan dengan mengemudikan kendaraan sendiri pula.

Pengusaha wanita Arab Saudi, Aziza Manshur menyambut baik fatwa itu. “Dulu yang selalu antar saya suami saya atau kerabat saya yang lain. Kini suami saya sudah meninggal, saya kesulitan mencari muhram untuk acara acara saya,” katanya, seperti dikutip harian Saudi Gazette edisi Jumat, 2 Januari hari ini.

Beberapa anggota Mejelis Syura Kerajaan Arab Saudi juga menyambut baik usulan Ubaikan itu yang diangap realistik ketika keamanan di Arab Saudi mulai kondusif. “Saya orang pertama yang akan mendukung usulan itu,” Dr. Talal Al-Bakri, anggota Majelis Syura Kerajaan Arab Saudi yang didukung temannya Dr. Sadaqa Fadel.

Namun, tak demikian dengan Dr. Ahmad Syaiybi, guru besar ilmu fikih pada Universitas Raja Saud di Riyadh. Menurutnya ada syarat yang harus dikemukakan. “Harus ada jaminan pula bahwa ketyika wanita bepergian ia tidak duduk berdampingan dengan laki-laki. Tapi, duduk dengan sesama wanita,” katanya. Dan kepergian itu harus dalam transportasi terbuka, secara bersama-sama, dan tidak terjadi khalwat (mojok). (Musthafa Helmy)

%d blogger menyukai ini: