Keluhan Jemaah Bisa Diatasi

Banjarmasin (MCH). Jauhnya jarak pemondokan, pelayanan transportasi yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan serta katering yang terlambat datang sebagaimana dikeluhkan sebagian besar jamaah, tidak meninggalkan kesan bagi sebagian besar jamaah haji embarkasi Kalsel. Keluhan itu memang ada namun dapat di atasi.

“Keluhan itu memang dirasakan namun kemudian hilang semua. Mungkin disini nanti beritanya yang enak enak saja”, ujar HM Gufron yang tahun ini menjadi pembimbing ibadah haji kloter 8. Kloter ini full berisikan jamhaj dari kota Banjarmasin.

Keluhan tersebut menurutnya, pasti dirasakan pula oleh orang tua yang tergabung di dalam kloternya. Meskipun kloter ini menempati pemondokan yang relatif dekat dengan Masjidil Haram di bilangan Misfalah yang berjarak hanya kl 1,5 Km.

Meskipun termasuk dalam kategori ring I pemondokan jamhaj Indonesia, namun si orang tua yang tidak disebutkan namanya itu dalam melaksanakan ibadah haji senantiasa menggunakan kursi rodanya. Dengan teman setianya itulah dia kemana mana, tentu saja dibantu oleh orang lain.

“Maha besar Allah, usai berhaji setelah di Jeddah menjelang pulang, jamaah tersebut tidak lagi menggunakan kursi rodanya. Beliau sudah bisa jalan” jelas HM Gufron yang mantan Kakandepag Kota Banjarmasin itu. Jadi, beliau tidak mengingat lagi apa yang terjadi kala melaksanakan ibadah haji di sana. Beliau di dorong dan diapakan ke sana ke mari.

Singkat kata, lanjut pensiunan Depag yang tinggal di bilangan Kebun Bunga Banjarmasin ini, apa yang dialami selama menunaikan rukun Islam ke V ini dianggap sebagai tantangan dalam beribadah guna meraih haji mabrur.

Soal jauhnya jarak dan pemondokan yang patut layak untuk dipertanyakan kondisinya memang tidak dirasakan oleh jamhaj Kalsel khususnya yang tergabung dalam kloter 8. Namun hal itu dilihat dan dirasakan oleh anggota Tim Petugas Ibadah Haji Kalsel, H Syamsuddin.

“Saya melihat sendiri bagaimana keadaan pemondokan tersebut. Untungnya bukan jamaah kita Kalsel yang mendapat pemondokan tersebut”, jelas H Syamsuddin yang mengaku sempat melihat keadaan pemondokan yang jadi pembicaraan ramai di musim haji tahun 2008 ini.

Seperti diberitakan soal pemondokan, transportasi dan katering menjadi permasalahan yang diangkat oleh 121 anggota DPR-RI dalam mengajukan hak angket kepada pemerintah dalam hal ini Departemen Agama.

Untuk dapat masuk ke pemondokan yang terletak di kaki bukit itu menurut H. Syamsuddin yang sehari hari adalah Kepala Bidang Perencanaan, Kanwil Depag Kalsel, jamhaj terpaksa naik dengan menyusur tambang. Pemondokan di bilangan Tan`im yang berjarak kl 10 Km dari Masjidil Haram ini ditempati oleh jamhaj dari Nusa Tenggara Barat (NTB). (H.M.J. Thamrin Yunus)

%d blogger menyukai ini: