28 Jemaah Paspor Hijau Terlantar di Jeddah

Jeddah (MCH). Sebanyak 28 anggota jemaah haji berpaspor hijau yang sebagian mengaku berangkat ke Arab Saudi menggunakan jasa PT Mustika Cahaya Lestari selama empat hari terkatung-katung di Jeddah karena hingga kini belum memiliki tiket pesawat untuk kembali ke tanah air.

“Kami seharusnya naik pesawat Yaman Air, tapi ketika tiket diserahkan petugas tiketnya tidak mau terima, katanya nama kami tidak ada di komputer. Selanjutnya selama dua hari kami menginap di bandara internasional, satu hari di bandara haji, dan kemudian dibawa ke sini. Mungkin karena saya banyak dosa ya, jadi dapat kesulitan seperti ini,” kata salah satu anggota jemaah, Abu Haer Daeng Nompo (56), ketika ditemui di Hotel Al Azhar, Jeddah, Jumat petang.

Pengusaha konveksi asal Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, itu menuturkan, ia nekat berangkat ke tanah suci dengan paspor hijau bervisa haji menggunakan jasa PT Mustika Cahaya Lestari melalui seorang penghubung bernama Syaiful Islam dengan membayar ongkos naik haji sebesar Rp40 juta.

“Di Makassar antriannya panjang, harus nunggu empat sampai enam tahun, terus Pak Syaiful itu menjanjikan semuanya akan beres dan enak. Katanya hotelnya bagus, dekat Masjidil Haram. Kenyataannya di Mekah kami diinapkan di Soraya, sekitar delapan kilometer dari Masjidil Haram,” kata ayah dari empat anak itu.

Menurut tiket pesawat Garuda Indonesia yang ditempel pada paspornya, Abu Haer dan kawan-kawannya berangkat ke Arab Saudi dengan pesawat Garuda Indonesia bernomor penerbangan GA 980 tanggal 24 November 2008. Harga tiket 550 dolar Amerika Serikat dan di salah satu bagian cetakan tiket elektronik itu terdapat tulisan “for worker” atau untuk pekerja.

Di kamar hotel yang dia tempati bersama enam anggota jemaah yang lain, ia mengatakan, selama di tanah suci sama sekali tidak dipandu oleh petugas biro perjalanan yang memberangkatkan mereka.

“Awalnya ada lima petugas yang akan ikut bersama kita, tapi tidak jadi karena ada masalah dengan tiketnya. Jadi kami sendiri. Kami menunjuk Pak Zaenal untuk memimpin rombongan,” kata Abu Haer, yang menyesal karena tidak bisa pergi ke kota suci Madinah Al Munawaroh selama berada di Arab Saudi.

Ketika mereka tertimpa masalah seperti saat ini pun, kata dia, si perantara, Syaiful Islam, sangat sulit dihubungi. “Kesannya mau menghindar terus,” katanya.

Zaenal Bin Suhada (36) asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang ditunjuk anggota jemaah yang lain untuk memimpin rombongan, mengatakan tidak tahu menahu atas semua yang menimpa dia dan 27 anggota jemaah asal Sulawesi lainnya itu.

“Kami berangkat pakai Garuda. Pulang pakai Yaman Air, tapi pas mau `check in` tidak bisa,” katanya serta menambahkan akomodasi dan transportasi anggota rombongannya selama di Arab Saudi diurus oleh pihak Maktab 88.

“Setibanya di Jeddah, kami diantar ke Madinatul Hujaj, tapi ternyata di sana tidak ada jemaah. Lalu kami dibawa ke bandara internasional, lalu ke bandara haji dan terakhir ke sini,” kata pria yang pernah tinggal dan bekerja di sebuah biro perjalanan di Riyadh selama 14 tahun itu.

Meski mengaku tidak tahu siapa yang mengurus pengadaan tiket pulang bagi anggota rombongannya, namun dia mengatakan saat ini tiket pulang mereka sudah disediakan oleh seorang staf Kedutaan Besar RI di Kerajaan Arab Saudi.

“Tadi Pak Bambang dari kedutaan `sms` saya, katanya Insyaallah kami bisa berangkat tanggal 27 Desember,” katanya.

Menurut keterangan yang terdapat dalam paspor anggota jemaah, pihak yang bertanggungjawab atas semua keperluan mereka adalah biro perjalanan At Taubah, PT Musfira, PT Rahmat Antero Angkasa, PT Kurnia Utama Tour dan PT Hexa Mitra Wisata.

“Di Jakarta PT Mustika Cahaya Lestari,” kata Abu Haer, yang dipaspornya tercantum nama At Taubah sebagai penanggung.

Perusahaan itu, pada awal kedatangan jemaah ke Arab Saudi juga telah membuat lima anggota jemaah haji berpaspor hijau asal Banten terlantar di Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz Jeddah.(Maryati)

%d blogger menyukai ini: