Maftuh: Pelaksanaan Haji 2008 Lancar

Menteri Agama Maftuh Basyuni menyatakan bahwa pelaksanaan haji tahun ini berjalan lancar dan secara keseluruhan berjalan lebih baik dibanding tahun lalu. “Baik di Arafah, Musdalifah, Mina dan di Mekkah berjalan lancar,” ucapnya usai melaporkan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2008 kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Selasa (23/12).

Namun Maftuh mengakui ada masalah dalam hal pemondokan. Akibat perluasan Masjidil Haram,, maka lokasi pemondokan bagi para jamaah menjadi lebih jauh. Selain itu, pemilik-pemilik pondokan juga menaikkan tarif sewa. “memang ada eksploitasi dari pemilik-pemilik rumah untuk menaikkan harganya sehingga tidak dapat dijangkau oleh jamaah kita. Jadi di satu sisi jamaah kita nangis, dan di sisi yang lain pemilik-pemilik rumah itu nangis karena tidak disewa,” urainya.

Terkait keterlambatan pemulangan haji, Maftuh tidak mau disalahkan sepenuhnya. Ia beralasan keterlambatan tersebut bukan disebabkan oleh depag namun karena hal teknis. Ia memaparkan dalam satu hari jumlah penerbangan yang keluar dari Arab Saudi mencapai 260 penerbangan. Hal ini mengakibatkan keterlambatan jadwal penerbangan karena pesawat sulit mencari posisi parkir pesawat. “Jadi keterlambatan itu secara teknis,” katanya.

Guna membenahi penyelenggaraan haji berikutnya, Menag akan memperbaiki fasilitas pemondokan. Pemerintah akan menyewa pemondokan selama 15 tahun untuk sekitar 100 ribu jamaah yang berjarak hanya 1,8 km dari Masjidil Harram. “dananya hanya setiap musim haji kita bayar, jadi begitu mereka selesai bangun rumah itu, kita masuk,” katanya.

Adapun biaya kontrak selama 15 tahun itu, pada 3 tahun pertama sebesar 2000 real, tahun keempat sebesar 2500 real per orang sampai 10 tahun. Setelah tahun ke 11 akan ada pembahasan apakah tarifnya naik atau turun. “Tapi tidak boleh naik lebih dari 5%,” katanya.

1 Komentar

  1. solikin said,

    16 Januari 2009 pada 2:50 pm

    Walaupun berhasil, namun saya pikir telah terjadi pemborosan pada pelaksanaan haji, diantaranya dana untuk TPHI yang sebenarnya tidak perlu dikeluarkan khususnya untuk kloter yg jamaahnya ikut KBIH, sehingga TPHI hanya nganggur. Kemudian negara harus membayar 2 orang perawat yang tidak ada kerjanya. Padahal yg dibutuhkan jamaah haji adalah dokter, bukan perawat. Apalagi honor untuk perawat sama dengan dokter, jadi lebih baik menugaskan dokter saja, drpd perawat.


%d blogger menyukai ini: