Air Zamzam Nyaris Bawa Petaka

Nila setitik merusak susu sebelanga. Mungkin itu merupakan gambaran yang tepat dengan kejadian yang menimpa jamaah haji kloter Jakarta Pondokgede Senin, 22 Desember pagi setelah pesawat yang dinaiki harus kembali mendarat di bandara Jedah. Pendaratan darurat dilakukan disebabkan alarm tanda bahaya berdering di ruang pilot setelah 30 menit mengudara. Hal itu disampaikan Ketua kafilah jamaah haji DIY Drs. H. Sukiman yang tergabung dalam kloter 59 Solo, Selasa, 23 Desember pagi hari ini yang saat ini masih di Mekah.

Dijelaskan, ketika dilakukan pengecekan pada beberapa bagian pesawat, diketemukan air yang menetes dari dalam kopor salah satu jemaah haji asal Jakarta, yang ternyata bersumber dari jerigen Zamzam yang bocor. Karuan saja, pihak otoritas bandara menggeledah seluruh kopor jamaah kloter tersebut untuk mencari Zamzam atau bahan cair yang mungkin tersimpan didalamnya.

Dampak dari kejadian tersebut, mulai Senin, 22 Desember kemarin lalu petugas bandara Raja Abdul Aziz Jedah makin memperketat barang bawaan ketika melalui sinar X-ray agar jangan ada lagi Zamzam dalam kopor jamaah yang lolos masuk pesawat.

Menyikapi peristiwa tersebut, jemaah haji asal Yogyakarta yang saat ini masih berada di Mekah beramai-ramai mengirimkan jerigen isi Zamzam melalui biro jasa kargo terdekat.

Sebenarnya setiap jamaah haji sudah mengetahui adanya larangan membawa bahan cair dalam jumlah tertentu termasuk larangan memasukkan zam-zam dalam kopor, karena sudah disosialisasikan saat manasik jauh hari sebelum berangkat ke tanah suci. Hal itu dilakukan demi keselamatan dan kenyamanan seluruh penumpang, mengingat penerbangan sangat beresiko jika terjadi gangguan atau hal-hal yang tidak diinginkan. Mengenai air zam-zam, pihak Garuda telah menyiapkan untuk dibagikan kepada setiap jamaah haji masing-masing lima liter setibanya di asrama haji.

Sementara itu, kedatangan pesawat pengangkut jamaah haji masih mengalami keterlambatan. Bahkan untuk kloter 23 yang membawa jamaah haji asal Kabupaten Magelang dan Kendal molor hingga 26 jam karena semestinya sudah mendarat Selasa dini hari (23/12) pukul 02.15 WIB, namun pihak Garuda menginformasikan baru tiba Rabu (24/12) sekitar pukul 04.25 WIB.

Kedatangan jamaah haji yang selalu tidak tepat waktu hingga hari ini, rupanya telah diantisipasi petugas daerah yang menjemput mereka, khususnya dalam menyewa bus pembawa jamaah pulang ke daerah masing-masing. Rata-rata mereka menyewa dengan sistem pembayaran sekali angkut. “Dengan sering terjadinya perubahan jadwal kedatangan, kalau sewanya harian tentu panitia daerah harus nombok banyak.” (Akhmad Su’aidi/MCH Solo)

%d blogger menyukai ini: