Perluasaan Mas’a Pernah Diusulkan Bung Karno

Jemaah haji tak bisa mengelak lagi untuk memanfaatkan perluasan tempat sa`i (mas`a) yang kini menjadi perdebatan di kalangan ulama itu. Ulama Arab Saudi sudah emmastiklan bahwa perluasan mas`a tak menyalahi aturan.

Padahal, jika ditilik dari sejarah, pemikiran perluasan mas’a itu ide pertamanya justru dari Indonesia, yaitu saat Bung Karno melaksanakan haji pada tahun 1955. Melihat tempat itu terlalu sempit dan belum ditingkat, padahal menurut ukuran waktu itu dengan jumlah jemaah yang hanya ratusan ribu tempat itu masih memadai.

Lalu Bung Karno mengatakan pada Menteri Agama KH Masykur, “Kiai, tempat sa’i ini terlampau sempit sehingga tidak bisa menampung jemaah yang semakin banyak.”

Kiai Masykur menjawab: “Tetapi kelihatannya masih cukup layak Bung, terbukti jemaah masih bisa beribadah dengan lancar.”

“Iya sekarang masih bisa menampung,” sahut Bung Karno. “Bagaimana kalau jumlah umat Islam dunia mencapai satu milyar maka jemaah hajinya akan mencapai jutaan. Tentu tempat yang ada ini tidak memadai lagi.”

”Ya benar, Bung,” jawab Kiai Masykur singkat. Dialog tersebut dikutip NU-Online edisi Senin, 22 Desember kemarin.

Gagasan Bung Karno itu kemudian disampaikan oleh Kiai Masykur kepada Raja Abdul Aziz, tetapi waktu itu belum ditanggapi karena memperluas tempat sa`i itu sulit dilaksanankan, sebab, harus mengubah struktur Masjidil Haram. Kedua, memang belum dibutuhkan. Baru setelah jemaah mulai tidak tertampung sejak tahun 1980-an, maka tempat suci itu mulai diperluas dengan ditingkat. Kini menjadi sangat luas dengan daya tampung 45.000 jemaah perjamnya. (*)

%d blogger menyukai ini: