Wanita Pekerja Keras di Musim Haji

Mekah pada musim haji memang menjanjikan segalanya. Mekah telah menghidupi jutaan orang terkait dengan ibadah, baik haji dan umrah. Begitu seperti yang jemaah haji lihat saat-saat ini di sekitar Madjidil Haram, jalan Al-Masnhur, atau Al-Utaybiyah. Wanita-wanita ulet menjual keperluan jemaah haji untuk menghidupi keluarga mereka.

Saleha Saad, 40 tahunan, mengaku sudah 17 tahun berjualan untuk menghidupi anaknya. “Saya lakukan semua ini setelah suami saya meninggal. Ketika masih hidup saya hidup berkecukupan,” katanya, seperti dikutip harian Arab News edisi Ahad, 14 November hari ini. Yang dikeluhkan adalah perilaku petugas kotapraja yang kadangkala berlebihan memperlakukan mereka.

Umm Wijdan, 52 tahun, berjualan yang sama. “Saya sudah dua tahun berjualan. Saya jualan untuk kepuasan jiwa. Saya manfaatkan kemampuan menjahit dan kemudian menjual keluar,” katanya. Ia kini agak lamban kerja kareja pernah kena stroke ringan. “Suami saya tak bisa kerja setelah terkena diabetes.” Ia kerja sejak pukul 04.00 sore hingga pukul 11.00 malam. Asal cukup dapat uang untuk makan ia pulang. Ia mengaku juga dapat bantuan dari lembaga sosial dna pemerintah.

Ayesha Barnawi, 36 tahun, pendatang asal Afrika juga mengaku terpaksa harus berjualan barang adalah karena keterdesakan ekonomi. “Saya bukan orang Saudi sehingga tak dapat tunjangan. Tapi. meski mereka dapat tunjangan sosial, mana cukup. Lihat mereka kerja juga kan di sini,” katanya. “Saya punya lima anak dan suami yang sakit.”

Barnawi menyambut baik upaya kotapraja yang akan mengalokasi tempat untuk mereka sehingga wajah kota indah tanpa pedagang pinggir jalan. “Mereka jangan seenaknya melarang dan menyita barang dagangan saya. Duit yang saya peroleh mealui kerja keras,” katanya. Dia mengaku tak mampu menyewa penerangan listrik dan saluran air bersih ke rumah kontarakannya.

Begitu juga kerja keras Umm Khaled, 72 tahun dan warga Arab Saudi asli yang berjualan paklaian wanita. “Saya alami sakit sejak tiga tahun lalu. Saya punya anak kerja di Kuwait. Tapi, dia tak bisa bantu saya karena juga punya keluarga.” Ia kerja hingga pukul 23.30 malam. “Saya bekerja keras untuk anak saya yang masih 17 tahun yang masih sekolah. Nanti saya harapkan ia bisa bantu saya.”

Muhab Mustapha Abadah, Kepala Kotapraja wilayah Al-Utaibiya, menyatakan bahwa kini pihaknya tengah mengkaji memberi tenpat khusus utnuk pedagang wanita di wilayahnya. “Saya optimis hasil kajiani nanti akan menyenangkan pedagang wanita,” katanya. (Musthafa Helmy)

%d blogger menyukai ini: