Sebagian Jemaah Mabit Beratapkan Langit

Sejak Senin petang hingga Rabu dini hari (10/12), sekitar tiga juta anggota jemaah haji dari berbagai negara di dunia melaksanakan salah satu wajib haji yakni melewatkan lebih dari separuh malam dengan berdiam diri dan berdoa atau mabit di Mina, Arab Saudi.

Sebagian jemaah melakukan mabit di dalam ribuan tenda permanen yang dibangun di kawasan Mina, namun tak sedikit  yang melewatkan malam beratapkan langit Mina yang dalam sepekan terakhir ini cerah.

Mereka duduk, tidur atau sekedar merebahkan badan di tepian jalan, di bawah jembatan, di antara perkemahan permanen jemaah lain, di dekat bak sampah, atau menyelip di antara cekungan bebatuan di gunung atau bukit batu yang banyak terdapat di Mina. Mereka, dipandang dari jauh,  seperti noda-noda putih pada gunung batu yang berwarna coklat kehitaman pada malam hari.

Di antaranya ada yang mendirikan tenda kecil, ada yang menghampar tikar atau selimut, dan ada pula yang hanya beralaskan kardus atau plastik.  Tas dan buntalan bekal makanan tampak teronggok di sela-sela mereka.

Sementara itu, jalanan di Mekah yang menuju ke arah Mina padat oleh jemaah, baik yang naik bus dan mobil maupun yang berjalan kaki sendiri, berdua, sekeluarga atau dalam kelompok beranggotakan lebih dari 10 orang.

Semua jalur jalan dari Jamarat, tempat pelemparan jumrah yang kini dibangun tiga tingkat, menuju ke Mina dan sebaliknya juga padat, penuh dengan jemaah yang akan melempar jumrah ke Jamarat dan kembali dari Jamarat menuju ke Mina untuk melakukan mabit.

Jalur menuju terowongan Moaissim di Mina, yang merupakan jalur jalan menuju kompleks perkemahan jemaah haji Indonesia di Mina pun sangat padat. Karena arus jemaah yang keluar dari terowongan Moaissim dan turun ke tangga yang menghubungkannya ke jalan menuju Jamarat penuh, hingga pukul 22.00 waktu Arab Saudi, pihak kepolisian setempat melarang jemaah melewati tangga yang merupakan jalan pintas menuju terowongan Moaissim sehingga jemaah terpaksa mengambil jalan memutar yang jaraknya tiga kali lebih jauh dari jalan melalui tangga.

Para Askar, aparat kepolisian Arab Saudi, berdiri di depan tangga dan menghalau jemaah yang akan menaiki tangga menuju ke jembatan ke arah terowongan Moaissim. Mereka juga berdiri di sepanjang jalan menuju ke Mina, sibuk menghalau jemaah yang berhenti di tepian jalan karena bingung mencari jalan ke arah perkemahan mereka di Mina.

Sayangnya para Askar itu sangat tidak informatif, hanya bisa berbahasa Arab dan tidak bisa memberikan keterangan jelas tentang arah jalan menuju ke maktab atau kompleks perkemahan jemaah untuk negara atau kawasan negara tertentu.  Kadang mereka memberikan keterangan asal-asalan ketika ditanya tentang arah jalan ke perkemahan sehingga jemaah yang sudah tersesat makin tersesat.

Apalagi petunjuk jalan serta peta lokasi dan jalur jalan menuju kompleks perkemahan di Mina sangat minim. Dengan kondisi yang demikian, petugas haji tidak bisa berbuat banyak untuk membantu jemaah.

“Sejak tanggal 10 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah nanti kondisinya akan padat terus pada jam-jam begini, karena itu kami mengimbau jemaah tidak melontar antara pukul 24.00 hingga pukul 09.00 tapi sebagian jemaah tetap berkeras melakukannya.  Salah satu resikonya ya seperti ini, banyak yang tersesat karena jalur padat,” kata M Khozin, petugas haji Indonesia bagian keamanan di Pos Moaissim II.

Wajib haji
Setelah melakukan wukuf, berdiam diri dan berdoa di Padang Arafah tanggal 9 Dzulhijjah atau 7 Desember lalu dan selanjutnya  mabit di Muzdalifah, seluruh jemaah haji bergeser kembali ke Mekah untuk melakukan thawaf (mengelilingi Ka’bah tujuh kali) ke Mina untuk melakukan mabit dan melontar jumrah di Jamarat.

Sebagian berpindah menggunakan mobil dan bus namun banyak pula yang memilih berjalan kaki secara berkelompok dari Muzdalifah ke Mina yang jaraknya kurang lebih lima kilometer.

Di Mina, mereka harus melakukan wajib haji yakni melontari jumrah dengan batu-batu kecil yang disunahkan diambil dari Muzdalifah.  Pada hari Nahar, tanggal 10 Dzulhijjah, mereka harus melontari jumrah Aqabah dengan tujuh batu kerikil dan kemudian menggunting beberapa helai rambut.  Selanjutnya, pada hari-hari tasyrik yakni tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, mereka harus melontari jumrah Wustha, Ula dan Aqabah masing-masing dengan tujuh batu kerikil.

Selain itu, jemaah haji juga harus melakukan mabit selama hari-hari tasyrik di Mina.  Mabit dilakukan dengan melewatkan lebih dari separuh malam sejak sebelum terbenam matahari sampai lewat tengah malam.

%d blogger menyukai ini: