Semua Sudut Mekah Jadi Lahan Bisnis

Tak ada sejengkal tanah pun di Mekah yang nganggur. Jika ada, maka beberapa orang akan berebut dan akan menggelar dagangannya di sana dengan harga berapa pun. Ahmad, seorang pendatang asal Yaman berani mengeluarkan uang 6.000 Riyal untuk sewa beberapa hari sebidang tanah sempit untuk berjualan.

Ahmad sudah bertahun-tahun berdagang pada musim haji. “Saya mengambil barang di Jeddah. Barang seharga 10 Riyal saya jual 30 Riyal,” katanya kepada harian Arab News edisi Rabo, 10 Desember hari ini. “Saya hanya kerja keras selama musim haji. Setelah itu santai. Saya cari tempat yang strageis dan kemudian mencari barang yang biasa dicari jemaah haji,” katanya.

Hal lain diakui Shafi Husain, pendatang asal Bangladesh yang menyewa tempat sampai 7.000 Riyal. Ia berjualan bergantian dengan temannya demi memanfaatkan musim haji yang milyaran Riyal dihabiskan jemaah haji.

Igbal Ali juga demikian, karyawan ini mengumpukan sisa gajinya untuk bisa menjadi modal di musim haji. “Saya jual yang ringan-ringan saja,” katanya. Ia sewa ruangan seharga 7.000 Riyal dan beli barang 6.000 Riyal. “Saya hanya ambil untung 5 Riyal per item barang,” katanya.

Pedagang lainnya yang tak mau disebutkan namanya justru merogoh kantung lebih banyak lagil, yaitu sampai 10.000 Riyal untuk bisa sewa kios selama sebulan pada musim haji. “Saya lengkapi dengan aliran listrik dengan biaya 100 Riyal,” katanya. “Saya menjual barang yang yak perlu modal besar tapi cukup menguntungkan,”katanya.

Untung? Ia menyeringai. Bagaimana mungkin tak untung jika ia sudah dua tahun menekuni dagang pada musim haji. “Saya tak punya pikiran beralih ke dagang di luar musim haji karena musim haji menjanjikan keuntungan besar,” katanya.

%d blogger menyukai ini: