Prosesi Haji Berjalan Lancar

Prosesi ibadah haji, yakni perjalanan ke Arafah untuk wukuf dan perjalanan ke Muzdalifah sampai Mina untuk melontar jumrah, khususnya bagi jemaah Indonesia, secara umum berjalan lancar. Namun, pelayanan makanan di Maktab 68 semrawut.

Menjelang wukuf di Arafah, Minggu (7/12), Menteri Agama M Maftuh Basyuni, yang juga pemimpin haji (amirulhaj) Indonesia, menyampaikan khotbah wukuf. Dalam pesan khotbah, Menag di antaranya mengingatkan pesan Nabi Muhammad akan pentingnya menggalang persaudaraan yang tecermin dalam larangan bermusuhan.

Setelah wukuf di Arafah, sekitar tiga juta anggota jemaah haji dari sejumlah negara di seluruh dunia, termasuk 210.000 anggota jemaah haji Indonesia, sejak Senin dini hari sudah berada di Mina.

Di tempat ini mereka melaksanakan kewajiban melontar jumrah dan bermalam hingga selama tiga hari. Meskipun sangat padat, arus keberangkatan dari Arafah ke Muzdalifah dan bermalam di Mina berlangsung lancar karena pengangkutan dengan bus cukup tertib. Sistem jalur ulang-alik tertutup diterapkan, yakni hanya bus yang melayani kegiatan pelontaran jumrah. Namun, pada siang hari kemacetan arus lalu lintas menuju daerah itu terjadi.

Kegiatan melontar sendiri juga lancar karena arus jemaah menuju tempat itu hanya satu arah. Kondisi itu terlihat mulai dari lantai dasar hingga lantai tiga.

Setelah menyelesaikan prosesi ibadah di Mina, jemaah akan kembali ke Mekkah. Kelompok terbang pertama dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada 17 Desember 2008.

Semrawut

Meski demikian, seperti dilaporkan Antara, pelayanan katering untuk jemaah haji di Mina, Senin siang selepas shalat dzuhur pukul 12.00 waktu setempat (16.00 WIB), berjalan semrawut. Suasana kacau dan semrawut itu membuat ratusan anggota jemaah haji, yang dalam kondisi cuaca panas, kian tersiksa karena tidak ada tanda atau atribut khusus, di mana setiap kloter seharusnya mengambil jatah makan siang.

Kondisi itu terpantau di Maktab 68 di perkemahan di Mina, tempat tujuh kloter dengan jemaah haji berjumlah sekitar 2.800 orang.

Jemaah haji yang tergabung di Maktab 68 terdiri atas tujuh kloter dari Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Suasana kesal tak dapat ditutupi sebagian besar anggota jemaah haji, yang pada Senin subuh hingga pagi hari baru saja berjalan kaki sejauh 8 kilometer pergi-pulang dari kemah di Mina ke lokasi melontar jumrah yang masih berada di wilayah Mina.

Bahkan, sebelum ke Mina, sejak Minggu malam hingga Senin dini hari, ribuan anggota jemaah haji itu juga harus menunggu bus yang saat mabit di Muzdalifah dan tidak tidur semalaman setelah hingga sore hari harus melakukan wukuf di Arafah.

”Kata pemerintah persoalan katering sudah clear sejak penyelenggaraan haji tahun lalu, tetapi fakta hari ini menunjukkan hal sebaliknya. Padahal, pengurus maktab, kan, sudah pasti dapat penghasilan besar dari katering haji ini,” kata Helmi Alwaini, anggota jemaah asal Kloter 16 Kabupaten Bogor.

%d blogger menyukai ini: