Pelayanan Katering di Mina Kacau

Pelayanan katering untuk para jamaah haji di Mina, Arab Saudi, Senin (8/12) siang selepas shalat Dzuhur pukul 12.00 waktu setempat (16.00 WIB) menjadi kacau, jamaah haji merasa di-“ping-pong”.

Suasana kacau dan semrawut itu, membuat ratusan jamaah haji yang dalam kondisi cuaca panas kian tersiksa, karena tidak adanya tanda atau atribut khusus dimana masing-masing Kloter seharusnya mengambil jatah makan siang itu. Demikian dilaporkan wartawan Antara dari Mina.

Kondisi itu terpantau di Maktab 68 di perkemahan di Mina, dimana terdapat tujuh Kloter yang berjumlah sekira 2.800-an jamaah haji. Para jamaah haji yang tergabung di maktab 68  terdiri atas tujuh Kloter dari Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Sumatra Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Suasana kesal tak dapat ditutupi oleh sebagian besar Calhaj, yang pada Senin Subuh hingga pagi, baru saja berjalan kaki sejauh 8 Km pulang-pergi dari kemah di Mina ke lokasi pelemparan jumroh yang masih berada di wilayah Mina.

Bahkan sebelum ke Mina, sejak Minggu (7/12) malam hingga Senin dini hari, ribuan Calhaj itu juga harus menuggu bus yang saat “mabit” (bermalam) di Muzdalifah, dan tidak tidur semalaman, setelah hingga sore haru melakukan wukuf di Padang Arafah.

“Kata pemerintah persoalan katering sudah ’clear’ sejak penyelenggaraan haji tahun lalu, tapi fakta hari ini menunjukkan hal sebaliknya, padahal pengurus maktab kan sudah pasti dapat penghasilan besar dari katering haji ini,” kata Ir Helmi Alwaini, jamaah asal
Kloter 16 Kabupaten Bogor.

Ia selepas shalat Dzuhur antre di sebuah meja layanan dekat tenda, yang pada pagi hari masih lancar, dan  kemungkinan karena Calhaj yang datang masih sedikit. “Tapi pada siang ini, saat perut terasa lapar Calhaj malah di-‘ping-pong’ kesana kemari, karena khusus untuk Kloter tertentu, eh…di meja lain ada Kloter  lain masuk tidak sesuai nomor Kloternya tidak diapa-apakan, dan akibatnya makanan cepat habis,” kata pengusaha
yang “terusir” dari tiga meja pelayanan katering karena tiadanya pengaturan nomor Kloter yang jelas itu.

Helmi mengaku heran bahwa masalah katering yang disebut sudah dapat diselesaikan itu kini muncul lagi, di saat jamaah haji pada musim haji tahun 2008 ini baru saja “terzalimi” oleh masalah transportasi yang membuat ribuan Calhaj terlantar di Masjidil Haram.

Menurut Narief, salah satu ketua regu dari Jabar, mestinya maktab dapat mengantisipasi  sejak awal masalah seperti itu, apalagi antrean yang “mengular” membuat Calhaj berusia lanjut dan perempuan kepanasan dalam cuaca yang terik. “Lagi-lagi akibat keteledoran pengaturan, dari maktab, Callhaj Indonesia jadi korban terus,” katanya.

Akibat kondisi itu, sejumlah jamaah haji menumpahkan kekesalan kepada ketua kloter, dan kemudian baru ditempelkan tanda bahwa Kloter tertentu mengambil di meja tertentu, namun banyak Calhaj yang sudah kesal sehingga tidak mau mengambil jatah makanannya.

Namun saat Antara mengecek ke lokasi meja pelayanan katering untuk Kloter 16, ternyata tidak ada satupun tertera informasi yang ditempelkan, tetapi hanya beredar dari mulut ke mulut. Selain itu, ternyata layanan juga masih amburadul karena setelah dapat informasi makanan tersedia, ternyata ada kasus yang nasinya ada namun lauknya habis dan sebaliknya.

%d blogger menyukai ini: