Gema Takbir Dikumandangkan Jemaah Haji Indonesia

Gema takbir dikumandangkan sebagian jamaah haji Indonesia khususnya saat memasuki atau keluar dari terowongan Mina di Arab Saudi, Senin (8/12), untuk melempar jumroh “aqobah” dengan batu kerikil.

Pelemparan jumroh yang dilakukan para Calhaj seluruh dunia itu adalah bagian dari wajib haji pada tanggal 10 Dzulhijjah.  Waktu pelemparan jumroh itu bersamaan dengan Idul Adha 1429 H yang dirayakan di umat Islam seluruh Tanah Air pada Senin (8/12).

Suara takbir, tahmid dan tasbih mengagungkan kebesaran nama Allah SWT yang dikombinasikan dengan kalimat “talbiyah” (menyambut panggilan Allah SWT dalam melaksanakan haji).

Sepanjang hari Senin, seluruh Calhaj baik yang di kemah maupun di masjid, usai shalat wajib lima waktu juga terus mengumandangkan gema takbir.

Pemerintah Arab Saudi telah membangun lantai ketiga untuk melempar jumroh guna memberi keamanan dan kenyamanan Calhaj guna melakukan wajib haji itu. Hal tersebut dilakukan demi mencegah terulangnya tragedi di terowongan Mina  yang menyebabkan ratusan hingga ribuan Calhaj beberapa tahun lalu tewas akibat berdesakan dan akhirnya terinjak jamaah dari belakang saat menuju pelemparan jumroh.

Pada pelemparan jumroh pertama atau “aqobah” sekira 2 juta Calhaj –meski diatur per benua– melaksanakannya di lantai dasar secara bersamaan.

Tetap waspada
Sementara itu dari tempat pelemparan jumroh aqobah, kewaspadaan tetap harus dijaga karena derasnya arus manusia (jemaah haji) yang melintas dalam rombongan besar maupun regu yang lebih kecil.  Bentuk fisik Calhaj yang lebih besar, khususnya dari negara Afrika dan Eropa, bila tidak diantisipasi bisa “melibas” Calhaj dari negara lain yang perawakannya lebih kecil, termasuk dari Indonesia.

Salah satu Ketua Rombongan (Karom) Kloter 16 asal Kabupaten Bogor, Jabar, KH MY Sa’dudin mengaku bahwa membawa jemaah haji bimbingan memang memerlukan kejelian strategi saat mulai berdekatan dengan simbol batu besar sebagai personifikasi setan itu.

“Sampai kini tidak sedikit jemaah haji yang masih dengan semangat dan emosi melempar dengan kekuatan penuh imbol setan itu, seolah melempar setan sebenarnya,” katanya.

Padahal, pelemparan itu adalah simbol bahwa manusia dalam hidupnya harus siap menghadapi godaan dan rayuan setan dalam berbagai kehidupannya, terlebih bagi mereka yang sudah berhaji.  Agar tidak terjadi peristiwa yang tidak diinginkan seperti tragedi Mina, pemerintah Arab Saudi menurut Gubernur Mekah Pangeran Khaled Al Faisal bin Abdul Aziz mengerahkan 100 ribu pasukan keamanan.

Sedangkan Kementerian Kesehatan negara itu menugaskan 11 ribu petugas medis dan paramedis, mendirikan 140 pos perawatan pertama, 24 rumah sakit dan mendirikan 4.000 rumah sakit lapangan.

Kegiatan ibadah sebagai bagian wajib haji di Mina berupa melempar jumroh itu masih akan dilakukan dua kali lagi yakni pada hari Selasa (9/12) dan Rabu (10/12), yakni melempar jumroh di “aqobah”, “wustho” dan “Ulla”. Setelah itu, jemaah haji akan kembali ke Mekah untuk melakukan “tawaf ifadhah” dan “tawaf wada’”, sebagai penutup rangkaian ibadah haji.

.

%d blogger menyukai ini: