Haji, Menag Kontrak Rumah 15 Tahun

Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni menyatakan, pihaknya telah menyiapkan kontrak pemondokan bagi 100.000 jemaah haji Indonesia dalam kurun waktu selama 15 tahun.

“Saya nggak mau lagi jatuh ke lubang yang sama dengan pemondokan seperti Syauqiyah, Ka’kiah, dan yang jauh-jauh itu,” katanya di Mekkah, Jumat pukul 22.00 waktu setempat atau Sabtu (6/12) pukul 02.00 WIB.

Setelah berbicara dalam Malam Ta’aruf Amirul Haj dengan petugas PPIH Arab Saudi di halaman kantor Daerah Kerja (Daker) Mekkah, ia menyatakan pihaknya telah mengutus tim untuk itu. “Tim itulah yang melakukan negosiasi soal kontrak yang berada di ring I dekat Misfalah itu. Saya minta tim untuk tidak pulang sampai berhasil,” katanya.

Di sela-sela pertemuan yang dihadiri pengawas haji dari Komisi VIII DPR RI dan DPD RI, Dubes RI di Arab Saudi Salim Segaf Aldjufri, Dubes RI di Qatar Rozy Munir, dan KJRI Jeddah Gatot Abdullah itu, Menag mengaku pemilik rumah sudah menyetujui dan tinggal membuat perjanjian.

“Kalau sudah, saya akan tandatangan. Untuk jemaah lainnya, rasanya tidak mungkin untuk menyewa pemondokan di ring I bagi 200.000, karena itu sisanya akan di ring II, tapi tidak akan sejauh sekarang,” katanya.

Namun, katanya, biaya pemondokan untuk 15 tahun itu mungkin tidak akan sama. “Mungkin tiga tahun pertama akan 2.000 riyal, tapi untuk selanjutnya 2.500 riyal, karena mengantisipasi perluasan Masjidilharam,” katanya.

Untuk pemondokan di Madinah, katanya, pihaknya sudah ada komitmen dengan DPR RI untuk menempatkan seluruh jemaah pada kawasan Markaziyah (ring I) dengan menaikkan biaya pemondokan dari 500 riyal menjadi 600 riyal.

Di hadapan ratusan petugas haji Arab Saudi dari jajaran kesehatan dan Depag itu, Menag menyatakan dirinya minta maaf kepada petugas yang telah bekerja keras membanting tulang dalam kondisi pemondokan yang jauh dan tanpa sarana transportasi.

“Ada ’tangan-tangan jahil’ dalam pelayanan haji yang berbuat aneh-aneh untuk mencari keuntungan pribadi. Jadi, tantangan berat yang kita hadapi adalah dari kita sendiri yang suka aneh-aneh itu. Mereka mengeksploitasi jemaah kita yang selama ini dikenal sabar,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Menga menyampaikan sejumlah pesan, di antaranya petugas hendaknya perlu membimbing jemaah haji yang umumnya dari pedesaan dan belum pernah ke luar negeri itu.

“Letak geografis Arab Saudi yang berbeda dengan Tanah Air akan berpengaruh terhadap kondisi fisik jemaah, apalagi alat transporasi yang diharapkan akan mengurangi kelelahan justru belum sesuai harapan,” katanya.

Menteri menambahkan perlunya petugas kloter untuk berkoordinasi dengan ketua rombongan dan ketua regu serta petugas Satuan Operasi (Satops) Armina (Arafah-Muzdalifah-Mina) harus berupaya maksimal menjaga ketersediaan katering dan keamanan jemaah.

%d blogger menyukai ini: