2.127 Jemaah Dapat Pengembalian Uang Pemondokan

Sebanyak 212.700 riyal Saudi Arabia dikembalikan kepada 2.127 jemaah haji Indonesia sebanyak enam kelompok terbang (kloter) berada di Madinah. Pengembalian itu dilakukan sebagai konsekuensi dari penginapan yang mereka terima tidak sesuai fasilitas hotel yang dijanjikan sebelumnya atau disebut pemondokan non-markaziah. Setiap jemaah menerima 100 riyal.

Sebelumnya juga sudah dibayar sebanyak empat kloter untuk 1.588 orang dengan total bayaran 158.800 riyal. Dengan demikian, sampai sekarang sudah dibayar 371.500 riyal untuk 10 kloter dengan jumlah jamaah 3.715 orang

Laporan pengembalian uang pemondokan non-markaziah di Madinah ini disampaikan Koordinator Tim Keuangan Daerah Kerja (Daker) Madinah, Zulkifli pada Sabtu (14/11) di Madinah. Sebelumnya juga sudah dibayar sebanyak empat kloter untuk 1.588 orang dengan total bayaran 158.800 riyal.

Ribuan jemaah haji yang menerima uang tersebut di antaranya sebanyak 445 orang kloter 20 dari embarkasi Jakarta, 258 orang dari kloter tujuh embarkasi Banda Aceh, 268 jemaah kloter enam dari embakarkasi Balikpapan , 444 orang kloter 21 dari embarkasi Jakarta, 267 orang kloter enam dari Banjarmasin dan 445 orang dari kloter 23 embakarsi Jakarta.

Pemantauan Kompas, kondisi pemondokan yang mendapat penggembalian uang non-markaziah itu di antaranya tidak memiliki televisi, lemari besi untuk barang berharga, fasilitas tempat tidur yang terbatas. Sementara itu yang berada di wilayah Markaziah, yakni di sekitar Mesjid Nabawi itu ditempatkan di hotel.

Sementara laporan dari Kantor Daerah Kerja (Daker) Haji Indonesia di Jeddah yang diterima Media Centre Haji (MCH) Madinah, menyebutkan, pihak aparat Bea Cukai Arab Saudi di Bandara Raja Abdul Aziz Jeddah menyita puluhgan dus berisi obat milik Maslah As’ari (50), jemaah haji Indonesia asal Magelang, Jawa Tengah.

Ketua Daker Jeddah Subakin Abdul Muntholib mengatakan, yang disita itu dua koper berisi 17 dus atau karton obat kontrasepsi. Dan 15 karton obat Reumasil serta 15 karton jamu rematik. Obat-obatan itu merupakan pesanan orang Indonesia yang tinggal di Saudi Arabia. “Yang bersangkutan nekat berspekulasi membawa barang-barang, kalau lolos yang syukur , kalau tidak juga tidak apa-apa,” katanya.

Menurut Subakin, yang bersangkutan tidak ditahan dan bisa melanjutkan perjalanan melaksanakan haji. Namun, dia juga melakukan teguran keras kenapa yang bersangkutan nekat membawa barang-barang tersebut.

Kompas Online

%d blogger menyukai ini: